Ngamen Di Festival

Tahun 2019 ini Ruangtuju membawa sebuah konsep sederhana yang kami beri nama #NgamendiFestival sebagai sebuah upaya untuk mengajak beberapa band lokal dari beberapa kota agar memiliki peluang untuk unjuk kebolehan di festival sebesar Soundrenaline 2019 di GWK Bali. Festival besar biasanya di dominasi band-band berskala Nasional dan Internasional. Kami datang dengan membawa konsep panggung, sound system sederhana dan nomaden, berpindah-pindah dari satu titik ke titik lain. Awalnya cukup sulit untuk meyakinkan pihak penyelenggara bahwa konsep ini akan menjadi sangat menarik karena bentuknya berupa kejutan dan tiba-tiba saja ada pertujukan musik kecil di area Garuda Wisnu Kencana yang sangat luas. Beberapa band telah kami kurasi menyesuaikan suasana festival, musisi mana berada di titik mana, konsep apa yang akan membuatnya menjadi kejutan menarik.

Rendi Kopay selaku stage manager dengan sigap selalu membawa HTnya untuk berkoordinasi dengan Tude, Soundman dan juga tim sound system yang 2 hari itu ikut menggotong segala peralatan dari satu titik ke titik lainnya. Ada juga human board yang digantung di punggung Adhi Nugroho.

Hari pertama pada ‪pukul 16.15‬ WITA ngamen dimulai oleh band El-Karmoya dari Jatinangor yang menghentak dan mengagetkan pengunjung yang baru saja memasuki area festival. Sang vokalis Pablo Suffy adalah putra daerah Mexico, Pablo total menggunakan bahasa Spanyol versinya sendiri, yang jelas-jelas ngawur namun menjadi satu keunikan luar biasa, yang membuat semakin geli ada salah satu personelnya yang mentranslate setiap ucapan Pablo, seperti penerjemah Presiden, dengan salin bahasa yang juga semaunya sendiri. Setelah 30 menit berlalu penuh keceriaan di sore itu, ngamen berpindah ke area Creators Park, di jalanan menanjak di depan landmark, sore itu kembali dihibur oleh Dialog Dini Hari, sontak pengunjung yang datang terkejut dengan kehadiran mereka. Mas Dadang menyapa pengunjung dengan hangat “Selamat datang di Bali” yang merupakan kota kebanggaan mereka. Beberapa lagu dibawakan dan jelas membuat penonton bernyanyi sepanjang 30 menit. Kharisma DDH memang selalu membawa magnet penonton.

Lalu pada malam harinya, Amboro menghentak panggung di area amphitheater, di depan para pedagang yang tak pernah sepi. Lirik-liriknya yang kocak membuat penonton tertawa lepas, penampilan Amboro malam itu sungguh prima, dengan kaos kutang berwarna kuning ngejreng. Satu persatu lagu dibawakan, setiap detiknya diwarnai tawa geli penonton karena liriknya yang nakal “Mendingan main di lapangan, daripada main cinta-cintaan.” Hampir tengah malam, setelah Jamrud membakar panggung, tiba-tiba Joe Million muncul dengan musik rap yang bengal. Mengajak penonton untuk mendengar pikiran-pikiran liarnya. Kencang angin malam itu sungguh membuat Joe Million semakin menggebu. Energinya seolah terus membara mengucapkan kata-kata dalam nada yang emosional. Penampilan Joe menutup Ngamen di Festival hari pertama, memberi kelegaan dan kebahagiaan tersendiri.

Hari kedua kami persiapkan lebih maksimal lagi, tepat ‪pukul 17.00‬ WITA dimulai oleh Mr. Bluesmaster – Made Mawut, tembang-tembang syahdu dengan permainan gitar yang mahligai membuat suasana sore itu hangat, seakan mengajak pengunjung yang baru saja datang seolah disambut sunset Bali yang ramah. Beberapa orang tampak berjalan mendekat, tampak beberapa pasang anak muda berdansa di atas pasir putih tanah batuan. Malam sekitar ‪pukul 20‬, Wake Up Iris, duo asal Malang yang selama ini seolah tak pernah berhenti untuk manggung keliling Indonesia, kembali menyapa lewat Ngamen di Festival, penampilannya yang romantis dengan hentakan bass drum seakan mengajak kita untuk berdansa khas Irlandia, diiringi suara biola yang sesekali melengking dan mengalun lembut.

Setelah Wake Up Iris, tiba saatnya band yang kami berangkatkan khusus setelah melalui challenge dan proses kurasi yang kami lakukan tepat sebulan sebelum event ini. Treeshome nama band ini, dari Ternate-Tidore. Mereka tak hanya bermain musik di kotanya, mereka melakukan lebih dari itu, mereka menggerakkan, mereka produktif walau jarak mereka berada jauh dari sentral, namun semangat mereka tak padam, percaya diri mereka melebihi segalanya, semangat mereka bagai api-api yang tak hentinya bergoyang. Mereka harus menjadi inspirasi bagi kota-kota lain, terutama penggerak kota yang masih saja mengeluhkan segala keterbatasannya. Semangat mereka benar-benar ditunjukkan dengan maksimal di event ini. Teatrikal yang dibawakan Bams sungguh memukau, bertelanjang dada memanggul bawaan yang diikatkan ke sebuah kain sepanjang 10 meter. Memerankan satu bentuk perlawanan mereka diterhadap segala keterbatasan. Penampilan malam itu sungguh membuat kami haru, bahagia, cinta dan bangga sebagai sejatinya bangsa Indonesia.

Keseruan malam terakhir kami tutup dengan penampilan El-Karmoya untuk kedua kalinya, karena kami merasa akhir dari Soundrenaline membutuhkan hiburan berkelas, dan benar penampilan penutup itu sungguh memukau. Kita kembali diajak menjelajah dimensi keMEXICOan yang disuguhkan El-Karmoya. Tembang-tembang seperti Quizas Quizas dan Volare dari ‪Gipsy Kings‬ membakar panggung melingkar yang dikelilingi ratusan orang yang sebelumnya menonton Shaggy Dog dan Suede. Panggung sangat meriah, penonton membludak, bernyayi, bergoyang dan berteriak bersama “VOLARE”. What a night! Kami puas, penonton puas, malam itu menjadi unik dan luar biasa. Sungguh kejutan-kejutan yang menyenangkan di Soundrenaline tahun ini.

Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu, mendukung dan berbahagia bersama kami. Sampai jumpa tahun depan.

Ditulis oleh Fithor Faris

Share This Event
Leave a Comment

Event Details
X